Pondasi Proyek Rp87,3 Miliar SMAN Sukma Nias Jadi Sorotan: Dugaan Bore Pile Dicor Saat Hujan, Konsultan dan PPK Bungkam

SIKATNEWS.id | Polemik Proyek Revitalisasi SMAN Unggulan Sukma Nias senilai Rp87.340.621.189,12 kembali memanas. Setelah sebelumnya disorot terkait dugaan penggunaan material yang tidak sesuai standar, kini perhatian publik mengarah pada kualitas pondasi dalam (bore pile) yang menjadi elemen utama penopang bangunan.

Masyarakat dan sejumlah pemerhati konstruksi meminta adanya keterbukaan informasi mengenai spesifikasi teknis pondasi, mulai dari kedalaman pengeboran, diameter bore pile, mutu beton, hingga hasil pengujian laboratorium dan uji pembebanan (Pile Loading Test/PLT). Mereka menilai informasi tersebut penting untuk memastikan bangunan yang nantinya digunakan ribuan siswa benar-benar memenuhi standar keamanan, terlebih Pulau Nias merupakan kawasan yang memiliki tingkat aktivitas kegempaan cukup tinggi.

Sorotan itu semakin menguat setelah awak media menemukan dugaan adanya proses pengecoran awal bore pile yang dilakukan saat hujan lebat. Peristiwa tersebut terekam dalam video amatir yang diperoleh media. Selain itu, muncul pula dugaan bahwa material pasir yang digunakan tidak berasal dari hasil uji teknis laboratorium sebagaimana lazim dipersyaratkan dalam pekerjaan konstruksi.

Proyek revitalisasi yang berlokasi di Desa Faekhu, Kecamatan Gunungsitoli Selatan, Kota Gunungsitoli tersebut dikerjakan oleh PT Razasa Karya dan ditargetkan rampung pada Desember 2026. Dengan nilai proyek yang mencapai puluhan miliar rupiah, masyarakat berharap setiap tahapan pekerjaan dilaksanakan sesuai spesifikasi teknis dan standar mutu yang berlaku.

Secara teknis, pondasi bore pile untuk bangunan bertingkat di wilayah rawan gempa harus mencapai lapisan tanah keras berdasarkan hasil penyelidikan tanah (soil investigation). Selain itu, mutu beton umumnya dipersyaratkan minimal K-300 atau setara, serta setiap tiang pondasi harus melalui tahapan pengujian guna memastikan daya dukungnya sesuai dengan desain perencanaan.

Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan, keterbukaan informasi terkait pekerjaan pondasi merupakan hal yang sangat penting karena menyangkut keselamatan bangunan dalam jangka panjang.

“Kami meminta agar data kedalaman bore pile, spesifikasi teknis, dan laporan uji laboratorium dipublikasikan secara terbuka. Jika pondasinya tidak kuat, bahayanya bukan hari ini saja, tetapi puluhan tahun ke depan saat bangunan ini dipakai ribuan siswa,” ujarnya.