KEJAR PROGRES, ABAIKAN STANDAR? Pengecoran Diguyur Hujan di Proyek Rp87,34 Miliar Sukma Nias, Konsultan, Pengawas dan PPK Bungkam

SIKATNEWS.id  Setelah sebelumnya menjadi sorotan akibat dugaan penggunaan pasir laut sebagai material konstruksi, Proyek Revitalisasi SMAN Unggulan Sukma Nias kembali menuai perhatian publik. Kali ini, pantauan langsung awak media pada Selasa (4/8/2026) mencatat aktivitas pengecoran beton yang tetap berlangsung meski lokasi proyek diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, Video amatir ada.

Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi proyek yang berada di Desa Faekhu, Kecamatan Gunungsitoli Selatan, pekerjaan pengecoran struktur bangunan diduga tetap dilanjutkan tanpa penghentian sementara, meskipun kondisi cuaca dinilai tidak mendukung. Situasi tersebut memunculkan pertanyaan dari masyarakat dan aktivis mengenai kepatuhan pelaksana proyek terhadap prosedur teknis pekerjaan konstruksi.

Proyek revitalisasi yang dikerjakan oleh PT Razasa Karya tersebut memiliki nilai kontrak sebesar Rp87.340.621.189,12 yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Sumatera Utara Tahun Anggaran 2026, dengan masa pelaksanaan selama 240 hari kalender sejak 21 April 2026.

Dari pantauan awak media sejak sekitar pukul 13.00 WIB hingga sore hari, hujan turun secara terus-menerus disertai angin. Meski demikian, para pekerja terlihat tetap melakukan pengecoran beton lantai dan beberapa struktur lainnya.

Selain itu, adukan beton tampak diratakan dalam kondisi terkena air hujan tanpa terlihat adanya perlindungan memadai terhadap area yang sedang dicor. Sejumlah petugas yang diduga merupakan bagian dari pengawas lapangan juga terlihat berada di lokasi, namun menurut hasil pengamatan media, tidak tampak adanya instruksi penghentian sementara pekerjaan.

Beberapa warga yang menyaksikan pekerjaan tersebut mengaku heran karena menurut mereka, pengecoran saat hujan jarang dilakukan pada pembangunan yang mengikuti standar teknis, terlebih pada proyek pemerintah dengan nilai anggaran yang besar.

Secara teknis, sejumlah pemerhati konstruksi menilai pengecoran dalam kondisi hujan berpotensi memengaruhi mutu beton apabila tidak dilakukan sesuai prosedur dan perlindungan yang dipersyaratkan. Air hujan dapat mengubah rasio air-semen dalam campuran beton, sehingga dikhawatirkan berpengaruh terhadap kekuatan, kepadatan, dan daya tahan struktur apabila tidak ditangani dengan metode yang benar sesuai spesifikasi teknis pekerjaan.

Temuan tersebut juga memperpanjang rangkaian sorotan terhadap proyek yang sebelumnya telah menjadi perhatian akibat dugaan penggunaan pasir laut dari Desa Ononamolo I Lot. Dugaan tersebut sempat mencuat setelah adanya pengakuan pihak penjual pasir yang menyebut material pernah dipesan oleh pihak proyek, sementara informasi yang beredar sebelumnya menyatakan bahwa material yang dinyatakan lolos pengujian laboratorium berasal dari wilayah Idanogawo dan Mo’i.

Menanggapi perkembangan terbaru tersebut, aktivis sekaligus pemantau independen pembangunan, Yason Yonata Gea, S.Pd. menyampaikan kritik keras terhadap pelaksanaan pekerjaan di lapangan.