Pernyataan tersebut mendapat reaksi keras dari sejumlah aktivis dan masyarakat yang menilai bahwa proyek dengan nilai puluhan miliar rupiah seharusnya diawasi secara ketat oleh seluruh pihak yang terlibat, termasuk penyedia jasa, konsultan pengawas maupun instansi teknis terkait.
“Kami meminta instansi yang berwenang segera turun melakukan survei lapangan secara menyeluruh. Jangan sampai ketika bangunan telah selesai baru diketahui terdapat persoalan kualitas konstruksi. Yang dipertaruhkan bukan hanya uang negara, tetapi juga keselamatan para siswa dan tenaga pendidik yang nantinya menggunakan fasilitas tersebut,” ujar salah seorang aktivis.
Selain dugaan pengecoran saat hujan, awak media juga mengaku telah beberapa kali meminta penjelasan kepada pihak proyek mengenai mekanisme pekerjaan pondasi bore pile. Pertanyaan tersebut meliputi metode pelaksanaan, spesifikasi material yang digunakan, jenis semen, ukuran dan mutu besi tulangan, hingga kedalaman bore pile yang dikerjakan.
Namun hingga berita ini ditulis, pihak proyek disebut belum memberikan penjelasan secara rinci terkait aspek-aspek teknis tersebut.
Masyarakat berharap Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara, konsultan pengawas, serta instansi teknis terkait segera melakukan pemeriksaan langsung terhadap pelaksanaan proyek guna memastikan seluruh pekerjaan telah sesuai dengan dokumen perencanaan, spesifikasi teknis, dan standar mutu konstruksi yang berlaku.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Razasa Karya maupun pihak-pihak terkait lainnya masih memiliki hak untuk memberikan klarifikasi atau tanggapan atas berbagai sorotan yang berkembang di tengah masyarakat.








