*”Kami sangat prihatin sekaligus khawatir. Apa yang terjadi pada tembok pagar ini adalah tanda peringatan dini yang sangat jelas. Jika tembok pagar yang strukturnya paling ringan saja sudah roboh sendiri tanpa sebab yang jelas, bayangkan apa yang akan terjadi pada bangunan utama pondasi, tiang, dan lantai yang nantinya menampung ratusan siswa setiap harinya,”* tegasnya.
Ia menilai kekhawatiran masyarakat sebelumnya tidak boleh diabaikan.
*”Kami sebelumnya sudah menanyakan enam pertanyaan mendasar kepada pihak terkait, namun belum ada jawaban yang memuaskan. Kini tembok pagar itu sendiri yang menjawab pertanyaan kami. Mutu pekerjaan ini memang harus dipertanyakan dan diperiksa secara serius,”* ujarnya.
Yason meminta pemerintah mengambil langkah konkret sebelum proyek memasuki tahap akhir.
*”Jangan tunggu sampai bangunan utama roboh saat sedang dipakai, baru pemerintah bertindak. Itu sudah terlambat. Yang dipertaruhkan bukan hanya uang negara Rp87 miliar, tetapi nyawa anak-anak kita dan guru-guru kita,”* katanya.
Ia mendesak agar pekerjaan dihentikan sementara pada bagian yang bermasalah, kemudian dilakukan audit dan pemeriksaan teknis secara menyeluruh.
*”Segera hentikan sementara pekerjaan ini, lakukan audit menyeluruh, dan bongkar bagian yang tidak memenuhi standar sebelum semuanya selesai,”* tegas Yason.
Siapa yang Bertanggung Jawab?
Robohnya tembok pagar tersebut kini memunculkan sejumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh pihak-pihak terkait.
Apakah keruntuhan berkaitan dengan kualitas material?
Apakah pondasi pagar telah dikerjakan sesuai gambar dan spesifikasi teknis?
Apakah kondisi tanah dan tingkat kepadatan timbunan telah diperiksa?
Apakah campuran beton dan material pasangan telah memenuhi spesifikasi?
Di mana fungsi konsultan pengawas dalam memastikan kualitas pekerjaan?
Dan yang tidak kalah penting, bagaimana tanggung jawab pelaksana proyek terhadap bagian konstruksi yang mengalami keruntuhan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut seharusnya dijawab melalui pemeriksaan teknis, bukan sekadar asumsi.
Proyek Rp87 Miliar Diminta Diaudit Menyeluruh
Proyek Revitalisasi SMAN Unggulan Sukma Nias merupakan pekerjaan bernilai besar yang menggunakan anggaran negara. Karena itu, setiap tahapan pekerjaan semestinya dapat dipertanggungjawabkan dari sisi administrasi, teknis, mutu, maupun keselamatan.
Robohnya tembok pagar, meskipun belum dapat dipastikan penyebabnya, menjadi momentum penting bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan proyek secara menyeluruh.
Jika ditemukan ketidaksesuaian terhadap spesifikasi kontrak, maka bagian pekerjaan yang bermasalah harus diperbaiki sesuai ketentuan. Apabila ditemukan pelanggaran atau kelalaian, pihak yang bertanggung jawab juga harus dimintai pertanggungjawaban sesuai aturan.
Proyek ini bukan hanya soal bangunan sekolah. Di balik nilai anggaran yang mencapai puluhan miliar rupiah, terdapat kepentingan keselamatan siswa dan tenaga pendidik yang nantinya akan menggunakan fasilitas tersebut.
Karena itu, transparansi menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
Hingga berita ini diturunkan, PT Razasa Karya selaku pelaksana proyek maupun pihak terkait lainnya belum memberikan tanggapan resmi mengenai robohnya tembok pagar tersebut maupun berbagai sorotan yang berkembang.
Publik kini menunggu langkah konkret Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara, PPK, konsultan pengawas, dan pihak terkait untuk memastikan apakah keruntuhan tersebut merupakan persoalan lokal pada satu bagian konstruksi atau justru menjadi indikator adanya persoalan mutu yang lebih luas.
Satu hal yang pasti: tembok pagar sudah roboh. Tinggal menunggu, apakah peristiwa ini akan menjadi alarm bagi pemerintah untuk bertindak cepat—atau kembali dianggap sebagai persoalan biasa.
Hingga berita ini ditayangkan sudah dikonfirmasi kepada humas proyek berinisal Eko, namun sangat disayangkan memilih bungkam dan mandul terkait robohnya sisi pagar proyek***








