Lebih lanjut, Yason menekankan bahwa CV Muara Kasih termasuk kategori usaha mikro dan kecil sehingga memiliki mekanisme penyesuaian tertentu dalam penerapan aturan ketenagakerjaan.
Menurutnya, ketentuan bagi perusahaan berskala kecil berbeda dengan korporasi besar dan hal itu telah diatur dalam ketentuan yang berlaku.
“Jangan memaksakan standar perusahaan besar kepada usaha kecil karena bisa berdampak pada hilangnya lapangan kerja,” katanya.
Ia menilai tuduhan yang diarahkan kepada perusahaan menjadi tidak tepat apabila tidak mempertimbangkan skala usaha dan kondisi riil perusahaan.
Pihak Perusahaan Bantah Bertindak Sewenang-wenang
Sementara itu, pimpinan CV Muara Kasih, Torodoto Hura, juga menyampaikan keberatannya atas pemberitaan yang berkembang di publik.
Ia menilai perusahaan justru telah menjalankan seluruh mekanisme sesuai kesepakatan tertulis bersama pekerja.
“Faktanya, diduga para pekerja terlebih dahulu melanggar perjanjian, tidak disiplin, dan melakukan mogok kerja sepihak,” tegas Torodoto.
Menurutnya, sangat tidak adil apabila pihak yang diduga melanggar perjanjian justru dianggap sebagai pihak yang paling dirugikan.
Nama Bandara Binaka Dinilai Tidak Tepat Diseret
Torodoto juga menyoroti munculnya nama pengelola Bandara Binaka dalam polemik tersebut. Ia menilai pengelola bandara tidak memiliki keterlibatan langsung dalam hubungan kerja antara perusahaan dan pekerja.
“Sangat keliru jika nama baik pengelola bandara ikut diseret, padahal mereka tidak terlibat dalam hubungan kerja ini,” katanya.
Klarifikasi Soal Selisih Gaji di BPJS
Menanggapi isu selisih nominal gaji yang tercatat di sistem BPJS Ketenagakerjaan dengan yang diterima pekerja, Yason menyebut masyarakat tidak boleh hanya terpaku pada angka yang muncul di aplikasi.
Ia menjelaskan bahwa nominal pada sistem BPJS merupakan dasar perhitungan administrasi, sementara gaji bersih yang diterima pekerja telah melalui pengurangan kewajiban dan potongan yang sah sesuai aturan.
Meski demikian, kedua pihak berharap polemik ini tidak lagi berkembang liar di media sosial tanpa pemahaman yang utuh. Mereka meminta masyarakat lebih bijak menyikapi informasi dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang dinilai hanya menampilkan satu sisi persoalan###








