Peninjauan di kedua lokasi tersebut difokuskan pada kondisi saluran yang mengalami hambatan aliran air akibat penumpukan material. Kondisi itu dinilai berpotensi memicu terjadinya banjir sehingga diperlukan evaluasi terhadap fungsi drainase dan akses jalan inspeksi di sekitar saluran.
Li Claudia menegaskan bahwa pembenahan infrastruktur harus berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat dan dilakukan secara berkelanjutan. Ia juga menilai keberhasilan fungsi drainase tidak hanya bergantung pada penanganan teknis, tetapi membutuhkan dukungan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
“Pembenahan infrastruktur yang kita lakukan harus berorientasi pada kenyamanan aktivitas harian warga. Di saat yang sama, peran aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan sangat dibutuhkan agar fungsi drainase tetap optimal,” ujar Li Claudia.
Mouris Limanto menambahkan, evaluasi kondisi lapangan akan terus dilakukan agar langkah penanganan yang disiapkan dapat disesuaikan dengan kondisi aktual setiap kawasan.
“Tim teknis kami akan terus melakukan evaluasi berkala di lapangan agar formulasi penanganan tepat sasaran sesuai kondisi aktual,” kata Mouris.
Penanganan Drainase Simpang Kabil
Salah satu hasil penanganan infrastruktur yang telah dirasakan masyarakat berada di kawasan Simpang Kabil atau Simpang Kepri Mal.
Melalui skema proyek multiyears 2026-2027, BP Batam melakukan peningkatan saluran drainase di kawasan tersebut. Setelah penanganan dilakukan, genangan yang sebelumnya kerap terjadi ketika hujan kini sudah tidak lagi dirasakan masyarakat.
Penanganan titik-titik banjir tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan BP Batam bersama Pemerintah Kota Batam dalam membenahi infrastruktur dasar di berbagai kawasan.
Pemantauan lapangan juga akan terus dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan penanganan baru sekaligus memastikan infrastruktur yang telah diperbaiki dapat berfungsi secara optimal dan memberikan manfaat bagi masyarakat.(red).








