Data Center Batam Melesat 1,47 GW, Kebutuhan Listrik Diprediksi Jadi Tantangan Besar

“Setiap megawatt investasi baru harus datang bersama solusinya. Jangan sampai investasi datang lebih cepat daripada kesiapan listrik. Infrastruktur harus mendahului pertumbuhan, bukan tertinggal di belakangnya,” kata Fary.

Tantangan tersebut semakin terlihat dari proyeksi kebutuhan listrik Batam. Fary menyebut 2029 akan menjadi titik penting, karena kebutuhan listrik untuk industri data center diproyeksikan mencapai lebih dari separuh beban puncak listrik Batam.

Sementara itu, PLN Batam memproyeksikan beban puncak listrik meningkat hampir tiga kali lipat, dari 841 MW pada 2026 menjadi 2.540 MW pada 2035. Untuk mengantisipasi pertumbuhan tersebut, daya mampu kelistrikan direncanakan mencapai 3.691 MW.

Menurut Fary, kondisi tersebut menuntut perubahan pendekatan dalam pengembangan investasi. Batam tidak hanya membutuhkan lahan dan insentif untuk menarik investor, tetapi juga harus memastikan ketersediaan energi yang mampu mendukung kegiatan industri dalam jangka panjang.

Kebijakan energi, lanjut Fary, diharapkan mampu memberikan listrik yang andal dan terjangkau bagi masyarakat, memberikan kepastian operasional bagi investor, sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi Batam agar berlangsung berkelanjutan dan seimbang.

“Batam tidak cukup hanya menawarkan lahan dan insentif. Keunggulan baru kita adalah kepastian, kecepatan, dan kepercayaan. Energi Batam harus siap agar investasi tumbuh dan Batam menjadi pusat ekonomi digital regional,” ujar Fary.(tim red).