Seorang warga Lahewa mengakui bahwa praktik ini sudah lama berlangsung. “Bisa dua kali seminggu bongkar babi di situ (Dermaga Pos AL), tapi warga diam karena takut diciduk,” ujarnya. Kesaksian ini diperkuat oleh MT, warga Olora, yang melihat rangkaian mobil pengangkut babi melintas beriringan dari arah Utara pada Minggu (11/1/2026) pukul 05.30 WIB.
Tak hanya di dermaga, jejak aktivitas ini meresahkan hingga ke permukiman. Seorang Kepala Lingkungan di Kelurahan Lahewa mengungkapkan bahwa warga sempat memantau sebuah gudang bekas kilang kelapa yang disewa oleh diduga warga Gunungsitoli. Di gudang tersebut terdengar suara babi dan ditemukan ceceran kotoran ternak di sepanjang jalan.
“Kami tidak tahu dari mana asalnya babi-babi itu, tiba-tiba sudah ada di dalam gudang,” kata sang Kepala Lingkungan.
Dugaan pembiaran oleh oknum aparat dan penggunaan fasilitas negara untuk kepentingan kelompok tertentu ini menciptakan mosi tidak percaya di masyarakat.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pos AL setempat belum memberikan klarifikasi resmi mengenai alasan dermaga tersebut digunakan untuk aktivitas bongkar muat ternak dan tudingan tebang pilih penegakan hukum di laut./Jamil Mendrofa.








