Di samping membangun UKM/UMKM Park, Pemprov juga harus berinisiatif membangun di setiap Kabupaten/Kota suatu tempat dimana para pelaku UKM/UMKM dapat mempromosi dan menjual hasil produksi mereka khususnya yang bernuansa asli keunikan daerah. Setiap event keramaian, kunjungan wisata atau kunjungan formal kenegaraan timingnya dapat disesuaikan dengan bazar atau pameran produk asli UKM/UMKM daerah setempat. Saya haqqul yakin kalau program memajukan UKM/UMKM dilakukan dengan ikhlas, steril KKN, sistematis, konsisten, profesional dan tawakal; dalam waktu 3 sampai dengan 5 tahun matahari kemajuan UKM dan UMKM Prov. Kepri akan tinggi menjulang. Yakinlah!!! Allah Swt. tidak akan pernah menyia-nyiakan sekecil apapun ikhtiar kebaikan kita. Aamiin….
Yth. Bpk. Gubernur…..
Tolong segera tingkatkan pembangunan dalam bidang kesehatan khususnya infrastrukturnya secara adil merata, karena bidang ini adalah kebutuhan primer rakyat yang berkorelasi dengan tingkat kesejahteraan, tingkat kecerdasan dan juga berhubungan erat dengan indeks pembangunan manusia. Hingga kapanpun kita tidak akan bisa membangun generasi muda yang handal, berkualitas dan berdaya saing kalau bidang kesehatan diabaikan. Sampai saat ini di beberapa daerah kabupaten pelayanan kesehatan belum ada kemajuan secara signifikan. Indikator utamanya adalah belum adanya Rumah Sakit Besar dan Representatif, seperti di Kabupaten Lingga, Anambas dan Natuna.
Untuk apa Bapak ambisi betul ingin membangun gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri dengan menghabiskan anggaran puluhan milyar itu??? Sekali lagi, untuk apa??? Sedangkan pembangunan kesehatan sebagai salah satu kebutuhan dasar rakyat di kampung-kampung terkorbankan. Sampai saat ini di Kabupaten Lingga, Natuna dan Kabupaten Anambas pembangunan bidang kesehatan masih tertinggal jauh. Dan yang membuat semakin sedih dan ngurut dada, seperti di Kabupaten Lingga Puskesmas Kecamatan di-up grade menjadi Rumah Sakit Daerah. Kasus tentang pelayanan kesehatan yang terbatas, kekurangan obat-obatan, kekurangan darah, peralatan rumah sakit yang tidak lengkap dan ketiadaan dokter spesialis (kecuali penyakit dalam) seperti sudah menjadi cerita geram bercampur duka dari mulut ke mulut masyarakat kampung. Oleh sebab itu, saya menyarankan kepada Ketua LAM Kepri dan segenap pengurusnya untuk menolak pembangunan gedung ini, karena masih beserak rakyat kecik yang lebih membutuhkan perhatian. LAM yang para pengurusnya selama ini dikenal sebagai para ulama, para tokoh agama, para tokoh masyarakat, para sesepuh adat dan orang-orang yang ta’at, jangan sampai terbabit dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang mubazir dan mencederai rasa keadilan. Kemuliaan dan kehormatan LAM bukan terletak pada gedung megah yang ikonik akan tetapi ditentukan oleh pengabdian tanpa pamrih.
Berdasarkan kasus ini maka saya sangat tidak setuju Bapak membangun sirkuit balap Formula One di Bintan, jangan latah nggak perlu ikut-ikutan NTB dan DKI Jakarta. Ini proyek super mahal bukan milyaran tapi trilyunan, belum lagi biaya penyelenggaraan dan maintenance. Sirkuit Mandalika NTB dibangun Pertamina dengan menelan biaya Rp. 2 T, jangankan untung – 100 tahun belum tentu balik modal, silap-silap setiap penyelenggaraan balap malah buntung. Contoh konkrit Sirkuit Balap Mobil Formula 1 di Sepang Malaysia yang sudah diselenggarakan selama 13 tahun ditutup karena rugi mulu; Petronas sebagai sponsor utamanya check out alias angkat tangan – tak sanggup lagi. Realistilah Pak!!! bangunlah kampung kita ini berdasarkan kebutuhan bukan keinginan, ingat pepatah sastra zaman bahelak “Katak ingin menjadi lembu”.
Selanjutnya, Pemprov Kepri tak perlulah berkongsi anggaran untuk membangun Bandara Busung Lobam, karena program ini murni ide dan rancangannya oleh pihak swasta yakni Bintan Inti Industrial Estate (BIIE) Lobam; business to business. Proyek bermahar Rp. 10 trilyun ini sudah bukan level provinsi lagi, kasihan masyarakat awam, dana kesejahteraan mereka terkorbankan. Dan sangat irrasional pulau Bintan sekecil ini, Pemrov. Kepri harus membangun dua bandara sedangkan jarak antara Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang dengan Bandara Lobam Busung yang akan dibangun sekarang, sangatlah dekat lebih kurang 2 jam perjalanan. Aktivis Bandara Tanjungpinang pun saat ini schedule penerbangannya masih jarang dan penumpang masih belum begitu padat. Di tambah lagi dengan keberadaan Bandara Internasional Hang Nadim Batam dan Changi Airport S’pore. Bantuan Pemprov Kepri cukup sebagai fasilitator dan membantu mempermudah penyelesaian regulasi saja.
Yth. Bapak Gubernur…..
Jumlah penduduk miskin Provinsi Kepulauan Riau masih relatif tinggi, di kota berkisar 6% sedangkan di desa sekitar 11% totalnya lebih kurang 115. 000 jiwa. Maka fokuslah pembangunan itu diarahkan kepada pemberantasan atau mengurangi tingkat kemiskinan serta mencerdaskan masyarakat yang masih terbelakang. Inilah sebenarnya hakekat dari makna pembangunan dan tugas mulia dari seorang pemimpin. Misi dunia wal akherat ini bukan saja sekedar amanat konsitusi pasal 34 UUD 1945; akan tetapi perintah langsung dari Allah Maha Diraja, bahkan siapa saja yang mengabaikan keberadaan nasib mereka di dalam Al-Qur’an dikutuk sebagai pendusta agama. (QS. Al-Maa’uun). Oleh sebab itu, roda pembangunan daerah itu harus digerakkan kepada kegiatan yang langsung dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat banyak, mendatangkan kemashlahatan umat, digunakan setiap saat bukan temporary, mempermudah aktivitas kehidupan rakyat serta sesuai keperluan dan kebutuhan. Pembangunan yang berspektif amal jariah yang pahalanya mengalir tanpa henti yang akan dituai oleh seorang pemimpin ketika menghadap Sang Khaliq nantinya. Seorang pemimpin yang ahli surga dalam shaf pertama bersama para nabi dan rasul bukan karena tugu, bukan karena monumen, bukan karena prasasti, bukan ikonik, bukan karena trophy, bukan karena piagam dan juga bukan karena penghargaan dunia yang sarat kepura-puraan. Akan tetapi karena dia mendakwahkan rakyatnya yang masih lalai, mensejahterakan rakyatnya yang masih miskin, menyantuni rakyatnya yang yatim, mencerdaskan rakyatnya yang masih bodoh, memajukan rakyatnya yang masih terbelakang, melindungi rakyatnya yang lemah dan menegakkan hukum secara adil (al-hadits). Kebaikan-kebaikan ini dibalas oleh rakyatnya dengan air mata kebahagiaan, tangisan terima kasih dan keikhlasan do’a yang menggetarkan “Arsy” dan diaminkan oleh milyaran malaikat. Ya Allah…. alangkah rapi dan sempurnanya rencanaMu ini…..Oleh sebab itu, sudah saatnya meninggalkan paradigma pembangunan yang silau dengan monumentalia yang hanya jadi tontonan, gedung-gedung megah ikonik yang percuma, acara-acara seremonial yang hanya menghambur-hamburkan anggaran atau honor-honor “spanyol” kepanitiaan padahal sudah mendapatkan gaji dan tunjangan sangat besar sebagai ASN.
Siapapun tahu, Provinsi Kepulauan Riau sebagai daerah yang sangat kaya raya, baik kekayaan hasil tambang, kekayaan hasil laut, kekayaan hutan, perkebunan, perdagangan, investasi bisnis, pariwisata dan jasa. Namun ironisnya jumlah penduduk miskin masih tinggi, hal ini menunjukkan ketidakberkahan, asbab dari ketidakadilan dan tata kelola pemerintahan yang salah urus.
Yth. Bapak Gubernur….
Mohon, mohon dan mohon sekali, jangan lagilah mengulangi blunder kebijakan pembangunan. Menurut catatan saya pada saat Bapak menjabat sebagai Bupati Bintan 2005 – 2015, begitu ambisinya Bapak membangun kompleks Penyelenggaraan MTQ Tingkat Provinsi Kepulauan Riau IV di Desa Teluk Bakau Kabupaten Bintan tahun 2012. Pada saat itu kompleks tersebut dibangun dengan sangat megah dan mewah yang menggunakan formulasi anggaran multi years (tahun jamak) dengan menyedot dana APBD Bintan puluhan milyar. Tapi apa lacur??? Proyek ambisius yang sangat mahal itu hanya dimanfaatkan selama 6 (enam) hari saja = selama MTQ berlangsung. Sekarang eks kompleks MTQ tersebut menjadi asset mati, gedung kusam, terbiarkan, tidak memiliki nilai ekonomis dan bingung mau dimanfaatkan untuk apa??? Besarnya uang rakyat yang dikorbankan tidak seimbang dengan kegunaannya yang sangat instant. Sebagai pelipur lara menutup malu Dinas Pariwisata Bintan berkantor di sana, lumayan dari pada tidak dimanfaatkan sama sekali. Saya khawatir blunder pembangunan yang mubazir ini dapat menjadi dosa jariyah, sangat fatal akibatnya. na’uzubillaahi wa na’uzubillaahi.
Yth. Bpk. Gubernur…..
Tulisan “Surat Dakwah Terbuka” ini hanyalah sebuah ungkapan nurani dari seorang saudara, pil pahit dari seorang sahabat, kerisauan dari seorang rakyat dan taushiyah dari seorang ustadz kampung. Saya tahu tulisan ini tidak akan ada pengaruhnya sama sekali terhadap kebijakan yang sudah Bapak lakukan, apalagi dapat membatalkan proyek-proyek yang sudah mulai dikerjakan. Saya menyadari siapa diri ini, tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan seorang gubernur yang penghargaannya bejibun. Apalagi Bapak dipuja-puja masyarakat sebagai Bupati Bintan yang paling sukses dalam membangun daerah, sekalipun Bapak tidak boleh menutup mata atas skandal kerusakan lingkungan yang sangat massive akibat pertambangan bauksit. Izinkan saya hanya bisa berkomunikasi dengan bapak melalui tulisan karena saya tahu Pak Gubernur sangat mencintai rakyat Kepri sehingga menjelang tahun 2024 Bapak super sibuk turun ke bawah, sangatlah sulit menyisihkan waktu untuk kita ber-face to face. Kemudian sayapun bukanlah anggota staf fulus – “e e maaf salah” – maksud saya Staf Khusus yang mempunyai akses bebas hambatan untuk bertemu. Dan sayapun berharap tulisan ini dapat membangunkan para anggota Lembaga Kontrol Pemerintah yang saat ini bisu tak bersuara, mungkin sudah enak tidur nyenyak di atas “Kasur Pokir” seharga Rp. 6 M. Atau secara silent sudah terjadi hubungan kerja dengan skema “Simbosis Mutualisme (saling menguntungkan)”, dilarang keras saling usil, saling berisik dan saling rebutan; antara eksekutif dan legislatif. Atau tulisan ini bisa juga dianggap sebagai batu kali untuk mengasah kembali pisau analisis kritis para akademisi yang sudah mulai tumpul berkarat lama tidak dipakai karena sudah terlanjur nyaman di zona pansel. Masalah ada fihak-fihak atau pribadi-pribadi yang merasa terusik, tidak setuju, tidak sependapat, membantah ataupun melakukan “counter attack” terhadap tulisan ini adalah sebuah keniscayaan dan kewajaran, tapi penting untuk dicamkan kita semua; “Kekuasaan tanpa kontrol akan otoriter dan korup”. Harapan saya terakhir, semoga saja Proyek Strategis yang bapak bangga-banggakan itu, di tengah lautan nakhoda tidak putar haluan 180° menjadi Proyek Strategis untuk mengumpulkan “Ongkos Pilkada” yang selama ini sudah ratusan kepala daerah menjadi tumbal OTT KPK. Semoga Allah Swt. Mengampuni segala dosa kekhilafan dan meridhoi segala amal soleh kita. “Ya… Allah…. Janganlah Engkau biarkan kami menjalani kehidupan yang sementara ini tanpa hidayah-Mu. Ya Allah….Masukkanlah kami ke tempat masuk yang benar, keluarkanlah kami ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kami dari sisiMu kekuasaan yang dapat memberikan pertolongan. Aamiin…..
Tanjungpinang, 2 Dzulhijjah 1443 H/2 Juli 2022;
Wassalam dari seorang sahabat;
(Hajarullah Aswad)








