Sudah Waktunya Anak Tempatan Melayu Kepri Menuntut Marwah dan Menegakkan Hak Istimewa

Belajar dari Riau
Di Riau Daratan, masyarakat multi-etnis justru bisa bersatu. Dukungan terhadap wacana Daerah Istimewa Riau menggema karena ada kesadaran kolektif. Sementara Kepri, dengan akar budaya yang jauh lebih tua, malah terpecah, kehilangan arah dan kehilangan nyali untuk menuntut haknya sendiri.

Mungkin kurang sosialisasi. Mungkin karena terlalu banyak kepentingan yang membuat suara Melayu terbelah. Tapi bila Kepri ingin bertahan, ia harus belajar bersatu.

Saatnya Menegakkan Marwah
Kini waktunya Kepri berdiri menegakkan marwah. Waktunya menuntut pengakuan yang sejati, bukan hanya pada adat dan budaya, tapi juga pada hak mengatur diri dan menjaga peradaban.

Dalam hal ini, Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri memegang peranan penting. Naum, LAM tak lagi cukup menjadi penjaga upacara, tapi harus menjadi penggerak sejarah untuk membela tanah, melindungi budaya, dan memperjuangkan kesejahteraan masyarakat tempatan.

Kepulauan Riau bukan sekadar gugusan pulau di ujung barat Nusantara. Ia adalah poros peradaban Melayu, tempat bahasa bangsa, bahasa persatuan ini pertama kali disulam. Tapi akar itu kini rapuh, dan tunasnya nyaris tak lagi berbuah.

Melayu adalah akar bangsa, dan bila akar terus tersiram air raksa, maka pohon besar bernama Indonesia akan mati di pangkalnya.

Bila Kepri ingin hidup kembali, ia harus menegakkan marwahnya sendiri. Tidak menunggu belas kasih pusat, tapi menjemput takdirnya sebagai daerah istimewa, istimewa dalam sejarah, dalam budaya, dan dalam jiwa.

Penulis : Monica Nathan dari Amerika
Sumber : Rilis Hotel Purajaya
Editor : Red.