Perbedaan Matahari Buatan, Jepang dan China

Matahari buatan China

Sementara itu, proyek Matahari buatan China telah dimulai sejak 2006, bernama Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST).

Matahari bernama HL-2M Tokamak ini adalah penelitian eksperimen nuklir terbesar dan tercanggih di dunia. Peneliti mengklaim reaktor tersebut dapat membuka sumber energi bersih yang kuat dan ramah lingkungan.

Cara ini diklaim akan menciptakan energi yang lebih bersih dan lebih aman daripada reaktor nuklir biasa.

Matahari bereaktor nuklir ini menggunakan medan magnet untuk memadukan plasma panas dan dapat mencapai suhu lebih dari 150 juta derajat Celcius. Suhu itu 10 kali lebih panas dibandingkan inti Matahari.

Proyek ini menghasilkan beberapa lompatan pada beberapa tahun ke belakang, di antaranya berhasil menyala selama 17 menit atau 1.056 detik pada 2022.

Matahari buatan ini melibatkan ilmuwan dari 35 negara, yang seperti Matahari buatan Jepang, bertujuan untuk menghasilkan sumber energi baru menggunakan fusi nuklir.

Untuk dapat mewujudkan proyek ini, China bekerja sama dengan sejumlah negara antara lain Amerika Serikat, Uni-Eropa, Rusia, Jepang, India, dan Korsel.

Proyek ini berhasil diselesaikan pada akhir 2019 dan terletak di provinsi Sichuan barat daya.

EAST sendiri disebut menggunakan medan magnet dan dipadukan dengan plasma panas sehingga suhu yang dihasilkan mencapai lebih dari 150 juta derajat Celcius.

Sumber: CNN Indonesia

(Red)