Leo berharap agar MGT (Media Group Toba) tetap berkoordinasi dengan pemerintah dan memberikan masukan. “MGT harus tetap menggandeng pengusaha dan pemerintah, agar bisa memajukan Toba. Jika pengusaha tidak memiliki ijin, mohon MGT membantu dan jangan terus menyoroti. Pemerintah juga harus membantu dalam pengurusan izin tambang agar pengusaha bisa mendapatkan izin dan PAD bertambah” terang Leo.
Banyak yang disoroti MGT terkait perkembangan Toba. Leo menyarankan agar MGT bisa berkontribusi dalam pembangunan melalui pemberitaan dan memberikan penjelasan kepada pengusaha dalam membantu pengurusan izin.
Hal lain yang disoroti awak media yang menjadi sumber PAD (Penghasilan Asli Daerah) di antaranya retribusi sampah, parkir, restoran yang semua bisa ditingkatkan.
“Daerah wisata bisa sumber PAD. Namun dinas tersebut harus melakukan sesuatu pembangunan yang bisa mendatangkan wisatawan. Semua dinas seharusnya membuat Perda” terang Leo.
Banyaknya perusahaan di Kabupaten Toba seperti Inalum, PT. BNE, Regal Spring Indonesia, Jasa Tirta dan TPL bisa memberikan dana CSR nya ke masyarakat. Namun jika masyarakat tidak menagihnya, maka perusahaan akan menyetorkan ke rekening Pemerintah.
“Kabupaten Toba bisa terbangun dengan dana CSR yang diberikan perusahaan jika masyarakat menagihnya, seperti jalan provinsi Habornas. Jalan Habornas bisa diperbaiki dengan menggunakan dana CSR dan dana Pemerintah Kabupaten Toba walaupun status jalan provinsi, dengan menyurati pemerintah provinsi” terang Leo.
Di akhir pertemuan, Leo meminta MGT berkontribusi langsung kepada pengusaha dan pemerintah daerah. Pemerintah daerah bisa terbantu dengan perolehan PAD dan pengusaha juga bisa berinvestasi dengan tenang karena melakukan kewajibannya.
(Dison.T)








