Kesaksian Pasien di RSUD Thomsen Nias Menjadi Sorotan Saat Aksi AMPERA

Setelah istri saya melahirkan lagi pak, lucunya makanan yanng di berikan makanan pedas, telur pakai cabai, terpaksa saya membeli makanan dari luar.

“Sepertinya kami dibolak-balik tanpa alasan yang jelas, sampai akhirnya anak kami yang masih dalam kandungan meninggal dunia,” ucapnya lirih.

Tak hanya soal penanganan medis, DZ juga menyoroti kondisi kebersihan ruangan inap di RSUD Thomsen Nias. Ia mengaku terkejut melihat banyaknya sampah dan kondisi ruangan yang dinilainya jorok dan tidak layak sebagai fasilitas pelayanan kesehatan.

“Saya heran, Pak. Ruangan tempat menginap penuh sampah dan sangat kotor. Rasanya ini bukan seperti rumah sakit,” ungkapnya.

Atas kejadian tersebut, DZ berharap adanya perubahan serius dalam sistem dan kualitas pelayanan di RSUD Thomsen Nias. Ia menegaskan bahwa pelayanan kesehatan menyangkut nyawa manusia dan harus menjadi prioritas utama pemerintah daerah serta manajemen rumah sakit.

“Saya berharap ke depan ada perubahan nyata. Kami masyarakat hanya ingin pelayanan kesehatan yang layak dan manusiawi, karena ini soal hidup dan mati,” tegasnya.

Pengakuan DZ ini menambah daftar panjang keluhan masyarakat yang mencuat seiring aksi AMPERA, sekaligus memperkuat tuntutan publik agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola dan kualitas pelayanan RSUD dr. M. Thomsen Nias/Yason Gea