Hotel Purajaya: dari Ikon Menjadi Puing, Marwah Melayu Dihancurkan

Dari Amerika, Tentang Citra Indonesia: Sebagai pengamat dari Amerika, saya bisa melihat betapa rapuhnya citra Indonesia jika kasus ini disorot dunia internasional.

Kontradiksi Branding vs Realita: Indonesia menjual slogan Unity in Diversity. Tapi kalau akar budayanya dilecehkan, dunia akan melihat kemunafikan.

Rule of Law vs Rule of Cash: Investor asing, diplomat, Non Government Organization (NGO/LSM) internasional akan membaca ini: di Indonesia hukum bisa dibeli. Mafia lebih kuat dari negara.

Indigenous Rights: Kasus ini bisa masuk radar PBB, Amnesty, Human Rights Watch. Dunia akan melihat Melayu sama seperti suku adat Amazon, Aborigin, atau Native Americans: diabaikan di tanah sendiri.

Mafia Global: Batam bisa dicap sebagai surga mafia internasional, memanfaatkan FTZ untuk pencucian uang. Indonesia bisa masuk radar lembaga seperti FATF.

Politik Simbol: Global media akan senang mengangkat kontras: Presiden pakai tanjak di Istana, tapi di Batam simbol Melayu dihancurkan. Judulnya mudah ditebak: Indonesia pandai simbolik, tapi abai pada rakyatnya.

Pertanyaan yang Menggantung
Dari negara Paman Sam, saya melihat jelas: bangsa ini sedang mempertaruhkan kredibilitasnya. Kalau akar bangsa saja tak dihormati, apa yang tersisa dari cabangnya? Kalau simbol budaya hanya jadi hiasan politik, apa artinya kebanggaan itu?

“Melayu bukan lemah. Melayu bukan hilang. Melayu adalah akar. Dan bangsa tanpa akar, akan tumbang,” kata Megat Rury Afriansyah.

Profil penulis: Monica Nathan, konsultan di bidang teknologi informasi. Hidup di dunia modern, tapi hatinya selalu kembali pada akar: Melayu dan Indonesia.

Editor : Red.