SIKATNEWS.id | Saya Monica Nathan, menulis dari Amerika, jauh dari tanah air. Namun, jarak justru membuat ironi (humor) ini terlihat lebih jelas.
Bahasa Indonesia lahir dari bahasa Melayu. Dari akar itu bangsa ini berdiri. Tapi apa yang saya lihat hari ini? Presiden Prabowo bangga mengenakan tanjak Melayu di Istana pada 17 Agustus 2025, disaksikan dunia. Sementara itu, di Batam, simbol Melayu dihancurkan.
Hotel Purajaya: Dari Ikon Menjadi Puing
Hotel Purajaya di Batam, milik keluarga Megat Rury Afriansyah, berdiri sejak 1988 sebagai ikon pariwisata dan simbol marwah Melayu.
Tahun 2023, bangunan itu diratakan atas perintah Direktur PT Pasifik Estatindo Perkasa (PEP), Jenni, dan Komisaris Utama PT PEP Bobie Jayanto, yang dimana kelompok ini dipimpin oleh Asri alias Akim Pasifik Group.
Dirobohkan tanpa surat pengadilan. Aparat hadir, tapi hanya menonton. Pemilk Hotel Purajaya mengalami kerugian yang ditaksir Rp922 miliar.
LAM Kepri menyebut ini ulah mafia tanah. Dan mari bicara apa adanya: mafia tak mungkin sekuat itu tanpa ordal (Orang Dalam). Polisi, DPRD, partai, hakim – banyak yang masuk payroll mereka.
Bahkan ada cerita Youtuber ditawari suap untuk bungkam. Lebih jauh lagi, ada “mafia di balik mafia”: pebisnis ilegal luar negeri yang memanfaatkan Free Trade Zone (FTZ) Batam.
LAM sudah kirim surat resmi ke Presiden. Sampai hari ini? Tak pernah dijawab.
Melayu yang Non-Eksisten di Museum
Kontradiksi ini makin terasa ketika kita masuk ke museum nasional dan museum budaya besar di Indonesia. Ada ruang untuk Jawa, Sunda, Batak, Minahasa, Dayak, Toraja, Papua.
Tapi di mana Melayu? Padahal bahasa persatuan yang kita pakai tiap hari lahir dari bahasa Melayu. Justru karena dianggap “default”, Melayu jadi budaya yang dipakai tapi tak pernah benar-benar diakui.
Politik Simbol vs Realita
Inilah wajah politik kita: Simbol dipakai, substansi ditinggalkan. Di Istana, Melayu dipuji. Di museum, Melayu dihapus. Di Batam, Melayu dipijak. Cash lebih kuat dari hukum. Simbol budaya jadi kostum politik. Negara memilih diam.