Di tempat yang sama, Sekretaris Daerah Konsulatasi FSPMI, Masa Eli Zai mengatakan, berbagai pertimbangan yang sangat sulit, rumit, dan berat sebagaiman jika digambarkan bagiamana beratnya beban di organisasi ini ketika adanya buruh di pecat. Pihak perusahaan tidak bisa disalahkan apalagi diberi pengertian terhadap kondisi buruh yang mereka rektut dari luar daerah.
“Contohnya saja, ketika seorang buruh dipecat atau di PHK, maka beban ekonomi, moral, bahkan beban hidupnya beserta keluarganya yang telah di PHK perusahaan dengan undang – undangnya dan segala aturannya. Maka si buruh menjadi suatu hal beban berat dalam organisasi yang sampai hari ini masih kami perjuangkan secara mandiri,” jelas Sekretaris Daerah Konsulatasi FSPMI Labusel.
“Pada intinya di Labusel ini, pihak buruh belum mendapat perhatian dari pemerintah, perusahaan, hingga Forkopimda, yang mana diduga melupakan kehadiran Organisasi buruh. Kami meminta kepada Kapolres Labusel, Catur Sungkono bahwa kehadiran Buruh FSPMI mohon diperhatikan,” sambungnya dengan tegas Pria berbadan atlit dan bersuku Nias tersebut di depan AKBP Catur Sungkono.
Pada kesempatan yang sama, Bapak Kapolres Labuhanbatu Selatan melihat buruh yang tertib dan memahami kondisi yang terjadi saat ini di kabupaten Labuhanbatu Selatan. Dianya memberikan apresiasi sebesar – besarnya dan pihaknya akan “mendalami” dengan pihak terkait yang menjadi keluhan para buruh.
“Baik, terimakasih kepada teman – teman buruh. Apa yang dituntut pada “May Day’ akan saya dalami bersama Dinas terkait dan ketika ada permintaan jangan sungkan dan jangan terhambatkan. Ada Kasat Intelkam yang siap berkoordinasi terus, dan pasti akan sampai itu ke saya,” tutup Kapolres Labusel yang berdarah Jawa dan Sunda.
(M. Zai)








