punya kontribusi nyata,
netral dan adil,
serta dihormati lintas kelompok.
Kegagalan mediasi ini, menurutnya, adalah bukti telanjang bahwa gelar besar tidak selalu diiringi wibawa dan keberanian mengambil sikap.
Semua ini terjadi di tengah luka sosial yang belum sembuh.
Masyarakat Nias masih marah atas pembubaran aksi AMPERA, ditambah polemik pernyataan Zulkifli Backill yang dianggap merendahkan kualitas sumber daya manusia Nias.
Dua luka ini bertemu dan menciptakan satu kesimpulan kolektif: diduga rakyat muak pada elit yang datang tanpa keberpihakan jelas.
Meski Ilham Mendrofa disebut telah mempertemukan para pihak dan memfasilitasi dialog berjam-jam di Mapolres Nias,
fakta bahwa proses hukum tetap berjalan memperkuat dugaan publik bahwa mediasi hanyalah formalitas kosong lebih mirip panggung simbolik ketimbang upaya penyelesaian substantif.
Peristiwa ini menjadi pelajaran keras: di era digital, gelar tidak lagi kebal kritik. Ketika mediasi gagal, ketika keadilan tak hadir, dan ketika rakyat tak merasa dilindungi, maka publik akan mengambil alih peran hakim.
Dan dalam pengadilan opini itu, nama besar bisa runtuh hanya dalam satu kolom komentar.








