Datang dengan nama besar, pulang tanpa solusi—warganet menilai mediasi hanya panggung kosong

SIKATNEWS.id | Klaim datang untuk mendamaikan berubah menjadi bahan olok-olok publik setelah mediasi yang diduga digagas Ilham Mendrofa gagal total menyelesaikan konflik penghadangan dan pembubaran aksi Aliansi Massa Pergerakan Rakyat Nias (AMPERA) di Tugu Meriam, 22 Januari 2026.

Mediasi yang digelar Selasa (3/2/2026) dari pagi hingga malam hari itu berakhir tanpa kesepakatan, tanpa pernyataan tegas, dan tanpa hasil nyata. Alih-alih meredakan konflik, kegagalan tersebut justru memicu satu gelombang baru yang jauh lebih mematikan: penghakiman terbuka di ruang publik digital.

Setelah tautan berita bertajuk “Mediasi Ilham Mendrofa Gagal, Kasus Pembubaran Aksi di Tugu Meriam Berlanjut ke Jalur Hukum” dibagikan akun Facebook Setia Z, kolom komentar menjelma menjadi ruang sidang rakyat.

Di sana, bukan hanya proses mediasi yang diadili, tetapi figur Ilham Mendrofa itu sendiri.

Dukungan terhadap AMPERA mengalir deras, menegaskan bahwa simpati publik berada di pihak rakyat, bukan elit.

Akun Murni Riang Wau menulis singkat namun penuh makna perlawanan, “Mantap, tetap solid dan kompak.”

Sindiran lebih telak datang dari akun Y Gea, yang menyindir hasil mediasi dengan kalimat,
“Jauh-jauh datang ke Nias, rupanya pulang tak bawa apa-apa. Ini AMPERA bosss.”
Komentar ini dengan cepat menyebar dan menjadi simbol kegagalan total mediasi tersebut.

Namun puncak kemarahan publik bukan hanya soal gagalnya dialog, melainkan soal keberanian menyematkan label “tokoh nasional” kepada Ilham Mendrofa.

Akun Samaeri Decoration Idanogawo secara frontal mempertanyakan legitimasi gelar itu dan menantang publik untuk menjelaskan: apa sebenarnya ukuran tokoh nasional jika konflik lokal saja tak mampu diselesaikan?

Nada serupa dilontarkan akun Pa’Cik Charlie, yang menilai kegagalan ini sebagai bukti bahwa citra nasional tidak otomatis berbanding lurus dengan kapasitas kepemimpinan. Menurutnya, tokoh sejati diuji saat krisis, bukan saat pidato.

Komentar paling menusuk datang dari akun Ama Gisel Zebua, yang mempreteli makna “tokoh” hingga ke akar. Ia menyebut tokoh bukan sekadar orang yang dikenal, tetapi sosok yang: