Bengkel CG Disorot, Bantah Tuduhan Lalai Soal Mobil Avanza Tanpa Oli

SIKATNEWS.id | Pemilik Bengkel CG, Wirajayadi, membantah keras tudingan kelalaian yang dilayangkan oleh salah satu pelanggannya, Petrus Gulo, terkait kerusakan mesin mobil Toyota Avanza yang disebut-sebut akibat tidak adanya oli mesin. Tuduhan tersebut sebelumnya telah dipublikasikan di sejumlah media online dan memicu perhatian publik.

Saat ditemui wartawan di lokasi Bengkel CG, Rabu (7/1/2026), Wirajayadi menegaskan bahwa tuduhan tersebut tidak hanya terburu-buru, tetapi juga bertentangan dengan logika teknis kendaraan bermotor.

“Kalau benar mobil itu keluar dari bengkel tanpa oli, secara teknis tidak mungkin bisa dipakai jalan selama kurang lebih sebelas hari, bahkan sampai ke wilayah Hilimaziaya, Nias Utara,” tegas Wirajayadi.

Ia menjelaskan bahwa mobil milik Petrus pertama kali masuk ke Bengkel CG pada 6 November 2025 dengan tujuan utama pengecatan full body (body repair). Tidak ada pekerjaan perbaikan mesin ataupun pembongkaran komponen vital kendaraan selama mobil berada di bengkel.

“Menjelang pengambilan mobil pada 24 Desember 2025, yang bersangkutan meminta tambahan pekerjaan berupa penggantian oli mesin. Itu saja. Tidak ada servis mesin, tidak ada bongkar komponen,” jelasnya.

Menurut Wirajayadi, mobil diambil oleh pemiliknya pada sore hari, 24 Desember 2025, setelah seluruh kewajiban pembayaran diselesaikan. Saat itu, kondisi kendaraan dinyatakan normal.

“Mobil keluar dari bengkel dalam kondisi hidup normal dan bisa dikendarai tanpa kendala,” ujarnya.

Permasalahan baru muncul pada 3 Januari 2026, ketika Petrus menghubunginya dan menginformasikan bahwa mobil mengalami kerusakan mesin saat berada di wilayah Hilimaziaya. Petrus kemudian menuding Bengkel CG lalai dalam proses penggantian oli dan menyebutkan mesin rusak karena tidak adanya pelumas.

Wirajayadi menilai tuduhan tersebut belum didukung oleh fakta teknis yang dapat dipertanggungjawabkan. Bahkan, berdasarkan keterangan Petrus sendiri, tidak ditemukan kebocoran oli dan baut pembuangan oli masih terpasang dengan baik.

“Kalau tidak ada kebocoran dan baut pembuangan masih terpasang, lalu oli itu ke mana? Ini seharusnya diperiksa dulu secara menyeluruh, bukan langsung menuduh,” katanya.

Pihak bengkel, lanjut Wirajayadi, telah menyarankan agar mobil dibawa kembali ke Bengkel CG untuk dilakukan pemeriksaan komprehensif menggunakan peralatan yang memadai. Usulan tersebut sempat disetujui, namun hingga Sabtu malam (3/1/2026), mobil tidak kunjung dibawa.

Pada Senin (5/1/2026), Petrus akhirnya datang langsung ke Bengkel CG. Dalam pertemuan tersebut, Wirajayadi kembali menekankan pentingnya investigasi menyeluruh sebelum menarik kesimpulan terkait penyebab kerusakan.

“Jangan dulu menyimpulkan siapa yang salah. Usia mobil itu juga sudah cukup lama, sehingga perlu dicek secara menyeluruh untuk mengetahui penyebab pastinya,” ujarnya.

Namun, kesepakatan tersebut berubah pada sore hari ketika Petrus meminta agar mekanik Bengkel CG datang langsung ke rumahnya untuk melakukan pemeriksaan. Pemeriksaan dilakukan keesokan harinya, Selasa (6/1/2026). Menurut Wirajayadi, saat itu mobil masih bisa dihidupkan, meskipun suara mesin terdengar kasar.

Persoalan kemudian menemui jalan buntu setelah Petrus menolak usulan pembagian biaya perbaikan dan menuntut agar seluruh tanggung jawab dibebankan kepada Bengkel CG. Petrus juga menyatakan akan membawa mobilnya ke bengkel lain karena tidak lagi mempercayai layanan Bengkel CG.

Wirajayadi menegaskan bahwa pihaknya tidak menutup diri dari tanggung jawab apabila terbukti kerusakan terjadi segera setelah mobil keluar dari bengkel. Namun, dalam kasus ini, jeda waktu sebelas hari menjadi faktor penting yang tidak bisa diabaikan.

“Kalau benar mobil itu tanpa oli sejak keluar dari bengkel, secara teknis mustahil bisa dipakai sejauh itu dan bertahan lebih dari seminggu,” pungkasnya/Yason Gea